BNNK Palopo Bebaskan Oknum Kades Patila

  • Whatsapp

Bataragurunews.com – Lima terduga penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang ditangkap BNNK Palopo, beberapa waktu lalu, satu diantaranya dibebaskan, yakni oknum Kades Patila, Kec. Tana Lili.

Diketahui, dari lima orang yang ditangkap, dua diantaranya merupakan oknum kepala desa di Luwu Utara bersama bendaharanya. Kelima terduga pelaku yang diamankan dalam penangkapan yakni AL (38), AG (17), NH (17), HA dan DD.

Penangkapan oleh BNN terhadap kelima terduga penyalagunaan Sabu tersebut, berlangsung dua tahap setelah dilakukan pengembangan hingga berujung ke oknum kades dan bendaharanya.

Bermula saat, Ahad 15 Novber 2020 lalu sekitar pukul 22:30 Wita, tiga orang ditangkap di TKP jalan Poros Sampoddo, kota Palopo yakni AL, AG dan NH saat ketiganya hendak menuju Luwu Utara dengan mengendarai mobil pick up Gran Max.

Saat dilakukan penggeledahan terhadap ketiganya, Tim BNN mendapati barang bukti yang diamankan dari AL berupa satu saset kristal bening yang diduga narkotika jenis sabu. Setelah ketiganya diamankan di kantor BNN kota Palopo dan dilakukan interogasi, kemudian diperoleh informasi bahwa barang tersebut merupakan milik salah satu oknum Desa di Luwu Utara.

Mengetahui informasi tersebut, BNN kota Palopo kemudian melakukan pengembangan ke Luwu Utara dan Senin, 16 November sekitar pukul 07:00 Wita, BNN berhasil mengamankan oknum kades tersebut dengan inisial HA sekaligus bendaharnya inisial DD.

Dalam berita sebelumnya telah disebutkan bahwa penangkapan terhadap kelima terduga pelaku oleh BNN kota Palopo, bermula dari informasi masyarakat yang menyebutkan bahwa akan ada mobil yang melintas di kota Palopo dari Kabupaten Sidrap hendak menuju Kabupaten Luwu Utara yang membawa Narkotika jenis Sabu.

Hal tersebutpun kemudian dibenarkan oleh Kepala BNN kota Palopo AKBP Ustim Pangaria, SE., M. Si saat ditemui di ruangannya dengan mengatakan penangkapan hingga pengungkapan kepemilikan Sabu tersebut, bermula dari informasi masyarakat.

“Penangkapan itu bermula dari informasi masyarakat dan setelah dilakukan penyidikan dan pengintaian, ketiganya berhasil kita amankan bersama barang bukti. Kemudian dari interogasi tiga orang tersebut, didapati informasi bahwa barang haram tersebut merupakan milik HA dan DD yang merupakan oknum Desa di Luwu Utara bersama bendaharanya,” ungkap Ustim.

Disebutkan pula dalam kesempatan pertemuan tersebut, satu diantara kelima orang yang sebelumnya diamankan di kantor BNN tersebut dibebaskan karena tidak terbukti terlibat dalam kasus tersebut dan juga tidak menggunakan sabu.

“Satu orang kita lepas inisial NH (17) karena setelah kita lakukan proses interogasi dan tes urin kepada kelimanya, NH ini tidak terbukti terlibat dan hasil tes urinnya negatif. Namun untuk pembebasannya masih menunggu orangtua NH agar secara langsung diserahkan ke orangtua NH,” sebut Ustim Kamis, 19 November 2020.

Hal menarik pula yang ditanyakan dalam pertemuan tersebut yakni oknum desa yang disebut sebagai pemilik Sabu tersebu yang ikut diamankan bersama dengan bendaharanya. Kepala BNN kota Palopo Ustim Pangaria saat ditanya oleh Palopo, “apakah ada indikasi uang yang digunakan membeli barang haram tersebut merupakan uang dari anggaran dana desa (ADD)?”, Ustim Pangaria menjawab, untuk sementara kita belum tahu karena saat ini kita fokus ke kasusnya dulu.

“Soal uang yang digunakan oknum desa tersebut untuk membeli barang haram itu, kita belum tahu karena saat ini kita fokus dulu ke lasusnya. Namun jelasnya oknum desa (HA) ini ditangkap karena disebut sebagai pemilik barang tersebut, sementara bendaharanya (DD) juga ikut diamankan karena atas perintah pak desa, kemudian mentransferkan uang Rp 1,5 juta ke AL untuk dibelikan Sabu di Sidrap,” tambahnya.

Diketahui AG dan NH merupakan siswa dari salah satu SMK di Sidrap yang baru lima hari praktek di perusahaan Sawit yang ada di Patila sementara AL merupakan pendamping di perusahaan satu tempat keduanya praktek.

“Kedua siswa yang baru lima hari PKL di salah satu perusahaan sawit di Patila, tersebut kembali ke Sidrap dengan tujuan mengambil motor mereka untuk digunakan selama praktek di perusahaan sawit tersebut tapi, saat berada di Sidrap AL ditelfon oleh pak desa (HA) untuk dibelikan Sabu. ALpun setuju, kemdain ditransferkanlah uang Rp 1,5 juta. Kemudian AG bersama kakaknya di Sidrap untuk mencari barang harap tersebut,” sebutnya.

Kasus tidak berhenti dipenangkapan itu saja, akan tetapi menurut Ustim Pangaria, akan dilakukan pengembangan dimana lokasi tempat mereka membeli barang tersebut di Sidrap. “Kita akan lakukan pengembangan dimana mereka membeli barang itu di Sidrap,” tutup Ustim.

Pos terkait